PPTRI Sepakati Sinkronisasi Kurikulum Nasional Tata Rias: Siap Cetak Lulusan Berdaya Saing Global di Era Digital
SURABAYA — Perkumpulan Program Studi Tata Rias Indonesia (PPTRI) mengambil langkah strategis dalam mentransformasi peta jalan pendidikan tata rias di tanah air. Melalui rapat koordinasi nasional yang digelar di Gedung Graha Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada Kamis (24/4), asosiasi yang mewakili berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta se-Indonesia ini secara resmi menyepakati perumusan kurikulum inti nasional. Langkah ini diambil guna mengikis kesenjangan standar kompetensi dan mengadopsi tuntutan industri modern yang kian dinamis.
Rapat krusial ini dipimpin langsung oleh Ketua PPTRI, Dr. Maspiyah, M.Kes., serta didampingi oleh Sri Usodoningtyas, M.Pd. selaku pencatat notulensi. Pertemuan berskala nasional tersebut dihadiri oleh para Ketua Program Studi Tata Rias terkemuka, di antaranya perwakilan dari Universitas Negeri Makassar, Universitas Negeri Medan, Universitas Adibuana Surabaya, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dan Universitas Negeri Semarang, beserta jajaran anggota pleno perkumpulan lainnya.
"Tujuan utama dari pertemuan intensif ini adalah untuk menyamakan visi dan misi dalam pengembangan kurikulum Program Studi Tata Rias di seluruh Indonesia. Kita berkomitmen melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara teknis, namun juga memiliki daya saing global serta adaptif terhadap ekosistem industri modern." DR. MASPIYAH, M.KES., KETUA PPTRI
Evaluasi kurikulum lintas institusi menunjukkan bahwa meskipun dasar-dasar tata rias telah diajarkan secara merata, terdapat variasi muatan lokal yang cukup kontras. Ragam fokus keahlian seperti make up fesyen, karakter, hingga tata rias pengantin tradisional menjadi kekuatan khas masing-masing kampus. Namun, PPTRI menilai diperlukannya standarisasi kompetensi lulusan di tingkat nasional yang mencakup empat pilar utama: kompetensi teknis lanjutan yang ketat pada aspek higiene-sanitasi, kedalaman pengetahuan anatomi-fisiologi, penguatan soft skills, serta ketahanan kewirausahaan (entrepreneurship).
Menjawab tantangan zaman, forum ini menyoroti lima aspek inovasi industri yang wajib diakomodasi ke dalam kurikulum masa depan. Pertama, aspek digitalisasi, di mana mahasiswa dituntut menguasai pembuatan konten kreatif media sosial dan pengelolaan e-commerce. Kedua, penguasaan teknologi modern seperti airbrush make up, teknik microblading dasar, hingga pemanfaatan perangkat perawatan kulit non-invasif. Selain teknologi, kesadaran lingkungan juga mulai menyentuh dunia kecantikan profesional. Forum menyepakati pentingnya mengedukasi mahasiswa mengenai tren sustainable dan penggunaan produk kosmetik ramah lingkungan (vegan products). Personalisasi layanan klien serta penguatan kapasitas Make Up Artist (MUA) untuk membangun citra diri sebagai influencer digital yang kredibel turut menjadi poin prioritas pembahasan.
Sebagai buah kesepakatan, PPTRI merumuskan sejumlah program kolaboratif jangka panjang yang akan segera dieksekusi, antara lain:
- Penyusunan Kurikulum Inti Nasional: Memfasilitasi draf kurikulum acuan yang fleksibel namun tetap menjamin standar kompetensi minimum lulusan tata rias di Indonesia.
- Modul Bersama & Pertukaran Akademik: Pengembangan modul pelatihan tren terupdate serta implementasi program pertukaran dosen dan mahasiswa antar-perguruan tinggi anggota.
- Riset Kolaboratif & Kerja Sama Industri: Menginisiasi penelitian bersama berbasis pemanfaatan produk lokal, serta membangun kemitraan strategis dengan brand kosmetik global, asosiasi industri, dan jaringan salon/ spa internasional untuk program magang terstruktur.
- Standarisasi Uji Kompetensi: Menginisiasi pembentukan lembaga uji kompetensi bersama di bawah naungan PPTRI untuk menjamin mutu keluaran lulusan.
Pertemuan yang berlangsung produktif selama tiga jam tersebut ditutup dengan kesepahaman bersama. Sebagai langkah konkret pasca-rapat, PPTRI segera membentuk tim kurikulum khusus yang bertugas menyusun draf kurikulum inti nasional. Pengumpulan data kurikulum dari seluruh prodi anggota akan segera dimulai, yang kemudian disusul dengan serangkaian rapat daring lanjutan demi mematangkan cetak biru pendidikan tata rias Indonesia menuju panggung dunia.